Bencana dan Ilmu-ilmu sosial

2019-01-22

Secara geografis, Indonesia terletak di pertemuan tiga lempeng tektonis. Ada dua konsekuensi dari hal itu: pertama, terdapat gunung berapi yang juga membuat tanah-tanahnya relatif lebih subur; kedua, kondisi geografis itu juga membuat Indonesia menjadi tempat yang rawan bencana. Dan memang, catatan-catatan mengenai peristiwa bencana yang terjadi di kepulauan ini bisa ditelusuri sampai jauh di masa lalu, sebagaimana terekam dalam naskah-naskah lokal dan catatan orang-orang Eropa sejak abad ke-17. Semuanya semakin memperkuat bahwa kepulauan Nusantara merupakan wilayah yang sangat rentan bencana.

Meskipun demikian, kajian bencana dalam ilmu sosial dan humaniora masih sangat sedikit dilakukan. Pertama, dokumentasi peristiwa-peristiwa bencana di masa lalu masih jarang dilakukan dalam studi sejarah dan filologi. Padahal, catatan para pelancong Eropa sejak abad ke-17 cukup banyak memuat kesaksian terkait peristiwa Bencana. Rumphius di abad ke-17, misalnya, mendokumentasikan dengan baik peristiwa tsunami yang terjadi di Banda. Franz Junghuhn juga membuat dokumentasi terkait peristiwa gunung meletus dan gempa bumi di abad ke-19. Selain catatan orang-orang Eropa, peristiwa bencana juga direkam dalam naskah lokal seperti Syair Kerajaan Bima yang menceritakan meletusnya gunung Tambora pada tahun 1815 dan Syair Lampung Karam yang menceritakan peristiwa meletusnya Krakatau di tahun 1883.

 Kedua, pembacaan sejarah politik terkait pergantian rezim juga sering kali absen dari penafsiran ekologis yang berusaha memaknai pergantian itu dari kemunculan bencana. Anthony Reid dalam artikelnya yang berjudul “Two hitherto unknown Indonesian tsunamis of the seventeenth century: Probabilities and context” terbit dalam Journal of Southeast Asian Studies (2016) memberi perspektif lain terkait naiknya Sultan Agung ke puncak kekuasaan Mataram. Konflik yang terjadi dengan VOC setelahnya juga merupakan akibat dari peristiwa bencana yang sama. Ketiga, bagaimana masyarakat merawat tradisi lisan terkait hubungannya dengan alam juga tidak banyak dilakukan. Peristiwa yang terjadi si Simeulue yang percaya bahwa jika air tiba-tiba surut, maka harus segera mencari tempat yang tinggi menunjukkan betapa terdapat banyak pesan dalam mitologi tradisi-tradisi kita. Pembahasan hal ini masih perlu dilakukan dengan melihat berbagai lokalitas.

Tiga persoalan ini hanya contoh dari sekian banyak hal yang bisa dikaji dari persoalan bencana. Atas dasar itulah untuk edisi 4 tahun 2019, Jurnal Sejarah mengundang para peneliti dari berbagai bidang studi untuk menulis tentang tema bencana. Hal ini diperlukan karena secara natural bencana tidak dapat dihindarkan di kepulauan ini. Kemungkinan yang paling bisa dilakukan adalah memahami bagaimana bencana terjadi untuk menghindari akibat buruk yang lebih besar yang ditimbulkannya. Selain itu, tema ini juga cukup penting untuk memperkaya perspektif kajian sejarah, terutama supaya bisa memberi kontribusi yang cukup penting dalam hubungannya dengan persoalan ini.

Di luar penulisan artikel, Jurnal Sejarah juga menerima ulasan bersifat tematis dari beberapa buku, dan esai buku (yang tidak harus tentang sejarah Indonesia) yang memiliki arti penting terkait tema yang menjadi pembahasan edisi ini. Karya tulis dikirimkan paling lambat pada 30 Mei 2019 dan diunggah secara online dan penulis diharapkan mengikuti ketentuan penulisan seperti tercantum dalam laman tersebut.

* Sumber gambar KITLV